melanieforassembly.com – Penguatan berkelanjutan pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menjadi sorotan utama di pasar modal Indonesia. Pada penutupan perdagangan Kamis sore, IHSG mencapai level tertinggi baru di angka 9.075,41, didorong oleh stabilitas makroekonomi domestik serta inflasi yang terjaga dan ekspektasi suku bunga yang rendah. Pengamat pasar modal, Reydi Octa, memperkirakan bahwa arus dana dari investor domestik berkontribusi signifikan terhadap ketahanan indeks terhadap guncangan eksternal.
Reydi menambahkan, kinerja emiten besar, khususnya di sektor perbankan dan saham berkapitalisasi besar, juga memperkuat posisi IHSG. Dengan valuasi yang dianggap lebih murah dibandingkan dengan bursa negara maju, investor domestik menunjukkan kepercayaan yang kuat, sehingga tidak terjadi aksi jual agresif meskipun ada tekanan dari sentimen global.
Meskipun terdapat ketidakpastian dalam kebijakan moneter negara maju dan pergerakan nilai tukar dolar Amerika Serikat serta meningkatnya ketegangan geopolitik, dampak tersebut diharapkan terbatas pada pasar saham Indonesia. Reydi menegaskan, basis investor domestik yang kuat menjadi pelindung utama bagi indeks.
Sektor-sektor yang mendukung penguatan IHSG mencakup perbankan, energi, dan saham-saham konglomerasi berkapitalisasi besar. Data dari Bursa Efek Indonesia mencatat, terjadi 3.373.659 transaksi dengan 50,63 miliar lembar saham diperdagangkan senilai Rp28,25 triliun. Pada hari itu, sebanyak 339 saham mengalami peningkatan, 331 saham mengalami penurunan, sementara 113 saham tidak mengalami pergerakan. Informasi ini menunjukkan dinamika yang positif di tengah tantangan pasar global.