melanieforassembly.com – Protes besar-besaran meletus di Teheran, Iran, pada Kamis, 8 Januari 2026, seiring dengan semakin meluasnya gelombang unjuk rasa anti-pemerintah di berbagai daerah. Ribuan warga turun ke jalan untuk menyuarakan kemarahan mereka terhadap situasi ekonomi yang semakin memburuk, serta tindakan keras aparat keamanan.
Para demonstran melintas di ruas-ruas utama ibu kota dengan meneriakkan slogan-slogan menolak rezim teokratis yang memerintah. Aksi tersebut dipicu oleh inflasi yang tinggi, penurunan nilai mata uang rial, dan meningkatnya harga kebutuhan pokok, yang semua itu semakin menekan kehidupan sehari-hari masyarakat.
Sebagai respons terhadap protes, pemerintah Iran segera memutus akses internet dan jaringan telepon di beberapa wilayah. Tindakan ini dianggap sebagai sinyal awal dari kemungkinan represif lebih lanjut, meski pemadaman tidak sepenuhnya menghentikan penyebaran video aksi protes di media sosial.
Beberapa demonstran tampaknya merespons ajakan Putra Mahkota Iran yang diasingkan, Reza Pahlavi, untuk turun ke jalan. Dalam video yang terkonfirmasi, terdengar teriakan dari massa mengungkapkan, “Ini adalah pertempuran terakhir, Pahlavi akan kembali.” Pahlavi sendiri menunjukkan dukungannya melalui akun media sosial, mendesak rakyat Iran untuk bersatu dan menyuarakan tuntutan mereka. Ia menegaskan, “Turunlah ke jalan dan, sebagai satu kesatuan, teriakkan tuntutan Anda. Bangkitlah Iran!”
Situasi di Teheran menunjukkan ketegangan yang meningkat serta keinginan masyarakat untuk perubahan di tengah tekanan ekonomi yang parah dan ketidakpuasan terhadap pemerintah. Pemerintah dihadapkan pada tantangan besar dalam merespons gelombang protes ini dan menjaga stabilitas di negara yang sarat dengan berbagai isu sosial.