melanieforassembly.com – Protes terbesar di Iran dalam tiga tahun terakhir berlangsung dengan intensitas tinggi sejak hari Minggu lalu dan memasuki hari kelima pada Kamis (1/1). Aksi tersebut berlangsung di tengah laporan bentrokan berdarah antara demonstran dan pasukan keamanan. Media yang memiliki afiliasi dengan pemerintah mengonfirmasi dua orang tewas akibat insiden ini.
Meskipun tidak ada identifikasi resmi terhadap korban jiwa, saksi mata dan rekaman video di media sosial menunjukkan para demonstran terjatuh di jalan setelah ditembak. Beberapa gambar yang diterima The Guardian memperlihatkan mayat dengan luka tembakan, meski kondisi sekitar gambar tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
Organisasi HAM berbasis di Oslo, Hengaw, mengungkap salah satu korban tewas kehabisan darah akibat luka tembak sebelum sempat mendapat perawatan medis. Kedua kematian tersebut dilaporkan terjadi di Lordegan, wilayah di barat daya Iran. Aktivis dan kelompok HAM memperingatkan adanya penindasan semakin brutal terhadap para demonstran, dengan pasukan keamanan menembak langsung ke arah mereka.
Salah satu saksi menjelaskan situasi yang genting, mengatakan bahwa lokasi tersebut seperti medan perang. Ebrahim Eshaghi, seorang pegulat Iran yang kini tinggal di Jerman, menyatakan bahwa warga setempat menuntut hak-hak mereka, dan protes ini dipicu oleh kondisi ekonomi yang semakin parah.
Pada malam yang sama, sekitar 30 orang ditangkap di Teheran terkait dugaan pelanggaran ketertiban umum. Protes ini berawal dari krisis mata uang nasional dan kini telah meluas ke berbagai kota, dengan demonstran menyerukan keadilan ekonomi dan perubahan rezim. Direktur Pusat Hak Asasi Manusia di Iran mencatat bahwa semakin banyak warga Iran hidup di bawah garis kemiskinan dan merasa tidak ada harapan untuk perbaikan. Kejadian ini terjadi setelah setahun dengan jumlah eksekusi yang meningkat, menciptakan atmosfer ketakutan di kalangan masyarakat.