melanieforassembly.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) mengalami penguatan pada penutupan perdagangan Senin sore, mencatat kenaikan sebesar 23,91 poin atau 0,30 persen, sehingga berada di level 8.126,56. Hal ini sejalan dengan ekspektasi pelaku pasar mengenai kemungkinan kelanjutan pemangkasan suku bunga acuan oleh The Fed pada 2025.
Ratna Lim, Kepala Riset Phintraco Sekuritas, menjelaskan bahwa ekspektasi penurunan suku bunga The Fed didorong oleh inflasi Amerika Serikat yang masih sesuai dengan proyeksi. Situasi ini berkontribusi positif terhadap pasar saham, terutama bagi saham-saham yang terkait dengan komoditas seperti emas, yang juga mencatat harga tertinggi baru.
Penguatan IHSG tidak terlepas dari faktor eksternal, di mana nilai tukar rupiah juga menunjukkan penguatan. Hal ini terjadi bersamaan dengan melemahnya indeks dolar AS, yang dipicu oleh ekspektasi pemangkasan suku bunga serta kemungkinan terjadinya government shutdown di Amerika Serikat.
Dari perspektif domestik, pelaku pasar sedang menunggu rilis sejumlah data ekonomi penting, termasuk data inflasi dan PMI Manufaktur untuk bulan September 2025, serta neraca perdagangan periode Agustus 2025. Selain itu, data ketenagakerjaan AS yang akan dirilis juga menjadi perhatian karena dapat mempengaruhi arah kebijakan The Fed di masa mendatang.
IHSG menunjukkan kecenderungan positif dari pembukaan hingga penutupan sesi perdagangan, tetap berada pada zona hijau. Dengan latar belakang kondisi ini, para analis optimis bahwa pasar akan mencermati perkembangan selanjutnya baik dari dalam maupun luar negeri.