melanieforassembly.com – Tradisi nganggung menjadi bagian penting yang dilestarikan oleh masyarakat di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) saat merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW. Perayaan kali ini berlangsung di Kelurahan Tua Nunu, Pangkalpinang, di mana ribuan warga berpartisipasi dalam kegiatan nganggung seribu dulang.
Kegiatan ini merupakan tradisi turun-temurun yang mengedepankan makna kebersamaan, gotong royong, dan syiar Islam. Dalam tradisi ini, para peserta membawa dulang atau wadah yang ditutup dengan tudung saji berwarna merah, kuning, dan hijau di atas bahunya. Setiap dulang berisi berbagai hidangan khas daerah yang akan disajikan secara bersama-sama setelah diawali dengan salawat dan tausiah.
Ahmad Alvian, sejarawan dari Bangka Belitung, menjelaskan bahwa nganggung berasal dari bahasa lokal yang berarti membawa sesuatu di pundak. Menurutnya, ada dua sarana khas yang digunakan dalam tradisi ini, yaitu dulang sebagai wadah makanan dan tudung saji sebagai penutupnya. Keduanya dihiasi dengan warna yang cerah, mencerminkan keanekaragaman budaya lokal.
Tradisi ini bukan hanya sekadar berkumpul, melainkan juga sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat atas kelahiran Nabi Muhammad SAW. Nganggung telah menjadi ikon budaya Bangka Belitung dan bahkan menarik perhatian wisatawan. Selain memberikan nuansa religius, tradisi ini juga berperan dalam memperkuat persatuan dan harmoni di tengah masyarakat. Nganggung dilaksanakan hampir merata di seluruh provinsi, menegaskan pentingnya warisan budaya ini dalam kehidupan sosial masyarakat Babel.