melanieforassembly.com – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai bahwa tahun 2026 berpotensi menjadi periode yang lebih aktif dalam penghimpunan dana di pasar modal Indonesia. Pendapat ini muncul seiring dengan pertumbuhan ekonomi domestik yang menunjukkan indikator positif, stabilitas makroekonomi, serta peningkatan likuiditas di sistem keuangan.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Inarno Djajadi, mengatakan bahwa kondisi tersebut bisa mendorong peningkatan aktivitas emisi, baik melalui penawaran umum perdana (IPO), penerbitan obligasi, maupun aksi korporasi lainnya. Untuk menunjang hal ini, OJK berkomitmen mengembangkan instrumen pasar modal, seperti penyediaan exchange traded fund (ETF) berbasis emas, guna memperdalam dan memperluas pilihan investasi.
OJK juga akan mempertimbangkan dinamika baik global maupun domestik dalam menetapkan target numerik penghimpunan dana untuk tahun tersebut. Menyikapi minimnya keterlibatan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dalam IPO, OJK memahami pentingnya peran BUMN dalam meningkatkan likuiditas serta diversifikasi investasi. Oleh karena itu, OJK secara aktif melaksanakan program pengembangan pasar bersama self-regulatory organization (SRO) dan pelaku pasar modal lainnya.
Program tersebut meliputi sosialisasi kepada perusahaan yang telah siap melakukan IPO, termasuk BUMN dan anak perusahaannya, untuk meningkatkan pemahaman tentang proses penawaran umum serta mengidentifikasi tantangan yang dihadapi. Meskipun demikian, keputusan untuk melakukan IPO sepenuhnya menjadi hak dan kebijakan masing-masing perusahaan.
Dengan penyesuaian fokus kebijakan menuju penguatan kualitas dan likuiditas pasar, OJK menuturkan bahwa target penghimpunan dana tahun 2025 telah terlampaui, mencapai Rp238,68 triliun hingga akhir November 2025.