melanieforassembly.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis sore ditutup melemah, mencerminkan ketidakpastian pelaku pasar seiring dengan perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. IHSG mengalami penurunan sebesar 2,21 poin atau 0,03 persen ke level 7.621,38, sementara indeks LQ45 juga turun 2,63 poin atau 0,35 persen ke posisi 75,32.
Dari analisis yang disampaikan Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, pasar global berharap untuk adanya kesepakatan perdamaian jangka panjang antara kedua negara tersebut. Saat ini, informasi menyebutkan bahwa AS dan Iran tengah mempertimbangkan untuk memperpanjang gencatan senjata selama dua pekan, untuk memberikan kesempatan lebih bagi pembicaraan. Meskipun demikian, situasi di Selat Hormuz tetap ditandai dengan tantangan signifikan, yang membuat pelaku pasar tetap waspada.
IHSG beroperasi di zona negatif tidak hanya karena faktor eksternal, tetapi juga aksi ambil untung setelah lima hari terakhir mengalami kenaikan. Selain itu, proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia juga menjadi sorotan setelah International Monetary Fund (IMF) memperkirakan penurunan dari 5,1 persen menjadi 5 persen untuk tahun 2026.
Frekuensi perdagangan saham hari ini mencapai 2.636.682 transaksi, dengan total nilai perdagangan sebesar Rp 18,14 triliun. Menariknya, dari 356 saham yang naik, ada 318 saham yang mengalami penurunan. Sektor transportasi dan logistik mencatatkan kenaikan tertinggi, sedangkan sektor barang konsumen non primer mengalami penurunan paling dalam.
Situasi di Asia juga turut memengaruhi pergerakan IHSG, di mana bursa regional tercatat menguat di beberapa tempat. Meskipun IHSG melemah, indikasi dari bursa regional menunjukkan sejumlah sentimen positif yang mungkin akan memengaruhi pasar ke depannya.