melanieforassembly.com – Ketegangan diplomatik kembali mencuat terkait rencana Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang ingin mengambil alih Greenland. Trump mengemukakan bahwa ambisi tersebut bertujuan untuk meningkatkan keamanan nasional AS. Namun, niatan ini ditolak tegas oleh Denmark dan Greenland, serta beberapa sekutu NATO.
Dalam Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, Trump menyebutkan adanya ancaman tarif perdagangan kepada negara-negara Eropa yang menolak rencana tersebut, tetapi mencabut ancaman itu setelah berdiskusi dengan Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte. Greenland, pulau terbesar di dunia, memiliki lokasi strategis di antara Amerika Utara dan Kutub Utara, menjadikannya penting bagi sistem pertahanan AS, termasuk pemantauan serangan rudal.
Dengan luas 2,2 juta kilometer persegi dan populasi sekitar 56.000 jiwa, Greenland merupakan wilayah dengan kepadatan penduduk terendah. Meskipun Trump membantah bahwa sumber daya alam menjadi motif utama, isu potensi cadangan energi dan mineral langka tetap menjadi perhatian. Trump mengklaim AS memiliki dasar sejarah untuk mengklaim Greenland, merujuk pada peran mereka di pulau itu selama Perang Dunia Kedua.
Di sisi lain, Perdana Menteri Denmark, Mette Frederiksen, menegaskan bahwa Eropa tidak akan diintimidasi dan menyuarakan kekhawatiran tentang dampak retorika Trump terhadap hubungan transatlantik. Rakyat Greenland juga menunjukkan penolakan terhadap rencana Trump melalui demonstrasi, menekankan keinginan untuk tetap independen dari penguasaan AS.
Rencana ini mencuat kembali setelah Trump kembali menjabat pada Januari 2025, menciptakan kekhawatiran internasional tentang masa depan Greenland dan dampaknya bagi hubungan global.